Mak, Pak.. Maaf Anakmu Tak Sehebat Anak Lain

Hari ini hari Minggu. Hari libur kerja. Aku menyempatkan diri pulang ke rumah. Seperti biasa, mamak sudah berdiri di depan pintu. Senyumnya teduh, hangat, seolah tak pernah lelah menyambut anaknya yang sering kali pulang dengan hati penuh beban. Aku masuk ke rumah, bertemu adik-adik. Tidak ada percakapan panjang. Adikku yang autisme hanya menatap dengan caranya sendiri. Yang satu lagi masih berusia empat tahun, sibuk dengan dunianya. Sementara satu lagi sudah terlelap tidur. Sedangkan Bapak sedang bekerja di kampung orang. Seperti biasa.

Di momen itu, aku tertegun. Ada rasa yang tiba-tiba menyesak di dada. Keluarga yang dulu kupikir penuh kekurangan, ternyata tidak seburuk yang selama ini kulihat.

Dulu aku sering marah pada Bapak. Ia jarang di rumah. Kalaupun pulang hanya beberapa hari, itu pun lebih banyak beristirahat. Aku merasa ia tidak hadir untuk kami. Aku juga sering kesal pada Mamak yang kerap memarahiku. Dan jujur saja, aku pernah lelah mengurus adik-adik. Tiga sekaligus. Rasanya berat. Aku bahkan pernah menyalahkan keadaan.
"Mengapa aku terlahir di keluarga dengan ekonomi pas-pasan?" 
"Mengapa adikku sebanyak ini?" 
"Mengapa hidupku terasa lebih sulit dibanding orang lain?"

Namun waktu perlahan mengajarkanku sesuatu.
Selama ini aku hanya melihat sisi kurangnya saja. Maka yang tumbuh di dalam diriku hanyalah rasa marah, kecewa, dan perasaan negatif lainnya. Aku tidak pernah benar-benar mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda. Padahal, Mamak dan Bapak tidak pernah menuntutku.

“Nak, tidak apa-apa belum bekerja. Di rumah saja bantu mamak. Bapak masih kuat.”

Kalimatnya sederhana, tapi sangat menyentuh.

Mereka tidak pernah memarahiku saat gagal. Tidak pernah membandingkanku dengan anak orang lain. Tidak pernah menekan atau memaksaku menjadi sesuatu yang bukan diriku.

“Nak, tidak usah menangis belum dapat kerja. Nanti pasti ada rezekinya. Jangan lihat orang lain.”

Dan aku?
Aku justru pernah marah pada mereka. Pada orang yang mengandungku, membesarkanku, dan bekerja jauh dari rumah demi menghidupi kami.

Sungguh, betapa sering aku salah menilai.
Hari ini aku belajar satu hal: ketika kita memilih melihat sesuatu dari sisi baiknya, hidup terasa lebih ringan. Bukan berarti masalah hilang, tapi hati kita lebih mampu menerima.

Aku pernah berada di masa terpuruk, menganggur, merasa tidak berguna, merasa gagal. Belum bisa memberi kontribusi besar untuk keluarga. Tapi Mamak dan Bapak tidak pernah berhenti meyakinkanku untuk bangkit, berusaha, dan berdoa.

Kini aku sudah bekerja. Memang tidak linear dengan jurusan kuliahku. Tidak seperti yang dulu kubayangkan. Tapi aku percaya, setiap perjalanan punya maksudnya sendiri.

Dan hari ini, dengan hati yang jauh lebih tenang, aku hanya ingin mengatakan:

"Mak, Pak… maafkan anakmu ini.
Anakmu mungkin belum sehebat anak orang lain.
Belum bisa membanggakan dengan cara yang besar. Dan untuk adik-adikku, maafkan kakak yang kadang lelah dan belum selalu bisa menjadi contoh yang baik".

Semoga suatu hari nanti, aku bisa membalas semua kesabaran dan cinta kalian, meski mungkin tak akan pernah sebanding.

Komentar

  1. Always bangga sama Niar 🫰🏻 luv 3000

    BalasHapus
  2. Semangat kak.
    Just fyi, kamu pernah jadi sumber inspirasi dan motivasi aku.
    Thank u kak!
    ~Big love from ur secret admirer🤍

    BalasHapus
  3. Peluk jauh untuk anak baik dan anak kuat ini ✨

    BalasHapus
  4. Peluk dari jauhh, baca tulisan niar kayak bentuk refleksi diri juga. Am I not good enough? Buttt, setiap perjalanan punya maksudnya sendiri. Proud of you Niarrrr

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

NIM

THINKING ABOUT SOMETHING